Kuliah Daring Pada Masa Cofid-19




Bagaimana Kuliah Daring Pada Masa Cofid-19 ?


  https://images.app.goo.gl/1nPo49DeQK2mttU56


Sejak pandemi cofid-19, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (FKIP UMS) menerapkan kegiatan kuliah dalam bentuk daring (dalam jaringan). Penerapan sistem daring ini diberlakukan guna meminimalisir cofid-19. Prasarana penunjang pembelajaran daring ialah Dosen cukup menjadi pembimbing atau fasilitator dari jarak jauh berada dirumah menggunakan komputer, laptop, atau gadget. Akan tetapi, bagi dosen merupakan sebuah tantangan baru dalam mengajar di dunia pendidikan melalui sistem daring. Terutama dosen yang kurang melek teknologi harus belajar menguasai teknonologi guna agar tetap terlaksananya kegiatan belajar mengajar. 


Dari kebijakan tersebut Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS) ikut menerapkan kebijakan tersebut yaitu sistem pembelajaran dengan sistem online (daring).  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pihak dosen dalam menerapkam sistem kuliah online dengan  menggunakan aplikasi berupa zoom, schoology, whatsApp, Instagram, Google Meet , Google Classrom dan lainnya.


Berdasarkan hal ini terdapat kendala yang dirasakan baik itu bagi mahasiswa maupun dosen. Untuk pihak dosen sendiri sebagian masih kesulitan dalam melaksanakan sistem daring. Sehingga menyebabkan pembelajaran yang masih kurang efektif. Namun, Pihak UMS masih tetap mengoptimalkan agar pembelajaran tersebut dapat optimal. Menurut “ Prof. Dr. Sutama, M Pd. Selaku Wakil Dekan I “ fakultas memberikan pelatihan – pelatihan kepada dosen untuk pelaksanaan daring. Pelatihan tersebut seperti memberdayakan dosen muda untuk dapat mendampingi dan membantu dosen senior dalam mengakses e-learning. Dalam pemeberian tugas, tugas itu penting karena untuk memantapkan mahasiswa dalam menelaah materi yang telah disampaikan dan dapat melatih serta mendorong kreativitas dan proses berfikir mahasiswa".

Menurut Alya R selaku mahasiswa FKIP UMS "e-learning akan berjalan secara efektif ketika dosen dan mahasiswa sama sama tahu menahu tentang teknologi." Dalam hal ini banyak kasus di UMS yaitu dosen masih banyak yang kurang mengerti tentang teknologi. Mahasiswa merasa penggunaan daring ini hanya pengalihan pembelajaran dari perkuliahan menjadi tugas yang terlalu banyak. Sehingga, mahasiswa merasa sangat terbebani. Hal ini mahasiswa mengaku merasa terbebani akan banyaknya tugas yang diberikan. Mahasiswa kurang mendapat ilmu karena pemberian materi yang kurang efektif.  sedangkan dosen sendiri tidak pernah/ jarang memberikan materi ataupun evaluasi dalam tugas mereka. Disisi lain banyak daerah yang kurang memadai cakupan sinyal. Sehingga, pembelajaran menjadi terhambat. kendala lain  dirasakan mahasiswa saat membeli kuota internet yang mahal.
 

Komentar