Feature


Senin, 26 Mei 2020.

Lebaran Sepi, Mereka Tetap di Hati



Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang paling dinantikan umat muslim. Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan ketupat dan mudik ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga. Kota besar akan ramai dikunjungi para perantau yang akan mudik di kampung. Para perantau biasanya mulai memadati tempat transportasi seperti bandara, stasiun dan terminal. Namun, semua itu terkendala dengan adannya Covid-19, semua mendadak sepi.
Adannya aturan PSBB tidak bisa dilanggar dan pemantauan yang ketat terus berjalan semua demi kebaikan kita bersama. Berat rasanya lebaran di tengah pandemi covid-19 seperti ini. Akan tetapi bila dilanggar akan berbahaya semua akan terkena imbasnya, kita tidak akan tahu penyakit apa nanti yang akan dibawa, jika tetap memaksa harus pulang kampung bisa saja yang kita bawa adalah virus covid-19. Lebih baik mencegah dari pada harus mengobati.
Tentu saja tidak mudah menjalani lebaran tanpa keluarga besar di perantauan kali ini. Di Praguman, KecamatanTuntang, Jawa Tengahn masih beraktivitas seperti biasa namun tetap melaksanakan aturan pemerintah tetap dirumah saja. Namun, lebaran yang saya kira tetap berada di rumah, hari lebaran masih  boleh berkunjung ke tetangga sebelah yang jaraknya masih dekat.
Saya terbaring di kasur sambil memainkan handphone, pandanganku  tertuju pada foto di galeri. Saya melihat foto dengan tatapan kosong, tak kuasa melihatnya tiba-tiba air mata jatuh di pipi. Foto keluarga besar membuatku rindu akan suasana hangat itu.”Rindu sekali saya dengan mereka, biasanya kami sudah berkumpul, makan kupat opor bersama tapi sekarang terhalang oleh jarak” Ucapku dengan nada rintih. Kumpul keluarga bagiku ialah momen penting dalam lebaran, selain dapat berkumpul kami bisa berbagi cerita yang menarik, biasannya kami bercerita tentang pengalaman selama di sekolah, saling tukar rasanya menjadi anak rantau bahkan kami juga bercerita kedekatan kita dengan seseorang.
Walaupun kami keluarga yang tinggal diperantauan tidak bisa mudik ke kampung halaman, akan tetapi teknologi sekarang sudah semakin canggih, lewat videocall kami bisa saling bertatap muka walaupun jarak jauh. Semua dapat terobati menahan rindu. Kami keluarga masih sangat bersyukur walaupun tinggal diperantauan akan tetapi keluarga kami masih lengkap, bagiku orang tua adalah harta yang paling berharga di bumi, tanpanya aku tidak akan jadi apa-apa, kedua orang tuaku sangat menyayangiku, mereka merawatku dengan sepenuh hati. Kakakku juga sangat menyangiku.

Komentar